MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS KESALAHAN-KESALAHAN YANG PERNAH SAYA LAKUKAN BAIK YANG DISENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA ..... SEMOGA ALLAH MASIH MEPERTEMUKAN KITA PADA RAMADHAN 1435H AMIN .. AMIN..MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS KESALAHAN-KESALAHAN YANG PERNAH SAYA LAKUKAN BAIK YANG DISENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA ..... SEMOGA ALLAH MASIH MEPERTEMUKAN KITA PADA RAMADHAN 1435H AMIN .. AMIN.MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS KESALAHAN-KESALAHAN YANG PERNAH SAYA LAKUKAN BAIK YANG DISENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA ..... SEMOGA ALLAH MASIH MEPERTEMUKAN KITA PADA RAMADHAN 1435H AMIN .. AMIN.

Selasa, 08 Januari 2013

:


Putusan ini dikeluarkan oleh MK setelah menimbang bahwa keberadaan RSBI dan SBI tidak sesuai dengan konstitusi yang ada. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan adalah biaya yang mahal mengakibatkan adanya diskriminasi pendidikan. Selain itu, pembedaan antara RSBI-SBI dan non RSBI-SBI menimbulkan adanya kastanisasi pendidikan.

Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam tiap mata pelajaran di sekolah RSBI-SBI juga dianggap dapat mengikis jati diri bangsa dan melunturkan kebanggaan generasi muda terhadap penggunaan dan pelestarian bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa.

Seperti diketahui, materi yang digugat adalah Pasal 50 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini telah menjadi dasar hukum penyelenggaraan sekitar 1.300 sekolah berlabel RSBI. Dengan keputusan MK ini, berarti status RSBI harus dihapus dan penyelenggaraan satuan pendidikan berkurikulum internasional juga tak lagi diperbolehkan

Juru Bicara Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar mengungkapkan alasan MK mengabulkan gugatan terhadap status Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar Internasional. Akil mengatakan status-status tersebut memunculkan diskriminasi dalam pendidikan dan membuat sekat antara lembaga pendidikan.

"Penggolongan kasta dalam sekolah seperti SBI, RSBI dan Sekolah Reguler itu bentuk diskriminatif dan bertentangan dengan konstitusi," kata Akil saat berbincang di ruang pers MK, Jakarta, Selasa (8/1/2012).

Akil menambahkan, RSBI yang sudah ada kembali menjadi sekolah biasa. Pungutan karena sistem RSBI, lanjutnya, juga harus dibatalkan. Pasalnya, pungutan tersebut merupakan bentuk ketidakadilan terhadap hak untuk memperoleh pendidikan yang setara.

"Hanya siswa dari keluarga kaya atau mampu yang mendapatkan kesempatan sekolah di RSBI atau SBI yang merupakan sekolah kaya atau elit. Sedangkan siswa dari keluarga sederhana atau tidak mampu hanya memiliki kesempatan diterima di sekolah umum (sekolah miskin)," ungkapnya.

Memang ada ketentuan RSBI harus menyediakan kuota 20 persen bagi siswa tidak mampu. Persoalannya, apakah kemudian siswa tidak mampu mau bersekolah di RSBI? Pasti ada beban secara psikologis," katanya.Kenyataannya, kata dia, kuota 20 persen yang disediakan RSBI bagi siswa kurang mampu selama ini tak pernah terpenuhi sebab anak dari keluarga tidak mampu secara psikologis akan berpikir ulang untuk masuk ke RSBI.

Selain itu, penekanan bahasa Inggris bagi siswa di sekolah RSBI atau SBI dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda tahun 1928. Sumpah pemuda tersebut dalam salah satu ikrarnya menyatakan berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia. Sebab itu, lanjutnya, seluruh sekolah di Indonesia seharusnya menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia.

"Adanya aturan bahwa bahasa Indonesia hanya dipergunakan sebagai pengantar untuk di beberapa mata pelajaran seperti pelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Sejarah, dan muatan lokal di RSBI/SBI, maka sesungguhnya keberadaan RSBI atau SBI secara sengaja mengabaikan peranan bahasa Indonesia dan bertentangan dengan Pasal 36 UUD 1945 yang menyebutkan bahasa negara adalah bahasa Indonesia,"pungkasnya.

Sebelumnya, Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji materi Pasal 50 ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Dengan dikabulkannya uji materi tersebut, RSBI dibubarkan oleh MK.

Dalam pembacaan amar putusan, Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD mengatakan Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim, mengatakan anggaran RSBI yang sudah dialokasikan di APBN 2013 bisa saja dialihkan untuk penerapan Kurikulum 2013. Penerapan Kurikulum 2013 direncanakan Juni nanti.
Selengkapnya...

Kamis, 13 Desember 2012

Tutorial Quizcreator

:


Selengkapnya...

Kamis, 06 Desember 2012

:

Kurikulum Baru 2013, Proyek Baru Pak Menteri!

 Akhirnya, parodi tentang KTSP yang diplesetkan Kurikulum Tidak Siap Pakai (KTSP) berubah jadi nyata! Awal tahun ajaran baru di pertengahan tahun 2013 nanti KTSP akan masung “tong sampah” diganti dengan  kurikulum baru yang akan segera diperlakukan secara bertahap. Implementasi kurikulum baru tahun 2013 itu akan dilaksanakan terlebih dahulu di kelas I, IV, VII dan X di semua sekolah di Indonesia.

Desember 2012 ini akan diadakan uji publik ke masyarakat. Draft kurikulum 2013 itu akan dimuat di website, disitu masyarakat dapat memberi masukan. Selain itu juga akan dilakukan roadshow ke daerah dan berdiskusi dengan para guru, tokoh pendidik, orangtua murid dan masyarakat.
Dalam rilisnya Kemendikbud menjelaskan untuk tingkat SD jumlah mata pelajarannya berkurang dari 10 menjadi enam mata pelajaran, yakni Kelompok A: Bahasa Indonesia, PPKN, Pendidikan Agama, Matematika, serta Kelompok B: dua muatan lokal, yaitu Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, serta Seni Budaya dan Prakarya. Bahasa Inggris tidak menjadi pelajaran wajib di SD. Jam belajar bertambah dari 26 jam per minggu menjadi 30 jam per minggu.
Perubahan struktur kurikulum SMP, jumlah mata pelajaran dari 12 menjadi 10. Mata pelajaran tersebut adalah Kelompok A: Agama, PPKN, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa Inggris. Kelompok B: tiga muatan lokal, yakni Seni Budaya, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, serta Prakarya. Jumlah jam belajar bertambah empat jam per minggu, dari 32 jam menjadi 38 jam per minggu.
Struktur kurikulum SMA mengalami perubahan dengan adanya mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Kurikulum SMK menambah jenis bidang keahlian atau produktif, dan mengurangi mata pelajaran adaptif dan normatif. Jumlah mata pelajaran juga berkurang. Jumlah jam belajar bertambah satu jam per minggu.
Merunut kepada Undang-Undang No.20 Thn 2003 Tentang Sisdiknas Pasal 1 Angka 19 berbunyi  : “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.  Dengan Keluarnya kurikulum baru yang hampir berubah sangat drastis dari kurikulum-kurikulum sebelumnya dipastikan para guru dan kepala sekolah akan kewalahan, apalagi penerapannya sangat cepat tanpa melalui uji kelayakan terlebih dahulu seperti perubahan kurikulum yang sudah-sudah.
Mendikbud menjelaskan kurikulum baru ini lebih bersifat tematik integratif dengan artian antara mata pelajaran akan terkait satu sama lain sehingga ada beberapa mata pelajaran yang dihilang dengan dipadukan dengan mata pelajaran lain. Mengenai proses pembelajaran akan diarahkan siswa lebih aktif sehingga  membutuhkan jam belajar lebih lama serta ada proses penilaian yang berubah. Mendikbud juga menjelaskan Indonesia merupakan negara yang memiliki jam belajar pendek dibandingkan negara lain. Padahal kecenderungan banyak negara sudah menambah jam belajarnya, oleh karenanya perubahan kurikulum itu perlu segera dilakukan.
Dasawarsa ini pemerintah indonesia sudah merubah kurikulum sebanyak tiga kali yaitu tahun 2004 dicetuskan  Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK),  Kemudian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2007 dan sekarang tahun 2013 ditelurkan lagi kurikulum baru.
Apa dasar perubahan kurikulum-kurikulum  tersebut pemerintah tidak pernah memberikan keterangan, kalau dikatakan gagal, apa ukuran kegagalannya tidak pernah dijelaskan! Oleh karenanya penulis sepakat dengan teman-teman guru yang menilai kurikulum baru ini tidak lebih hanya sekedar proyek! Terimakasih pak menteri anda telah menjadikan kami para pendidik dan generasi penerus sebagai lahan proyek anda! Salam.
Draf Resmi Kurikulum 2013sekolahbareng.blogspot.com
Selengkapnya...

Jumat, 30 November 2012

:

Subhanallah... Allahu Akbar.....

Foto dibawah menunjukkan bayi yg baru saja lahir berserta kantung air ketuban yg masih dlm keadaan baik. Gambar ini berbicara supaya kita semua berfikir bagaimana Allah SWT menjadikan lendiran2 ini sbg wakil (asbab-pelindung) kpd seorang bayi tatkala ia berada di dlm kandungan ibunya, di saat dia tidak punya siapa2 melainkan Allah.

Seorang ulama pernah menyebut: "Tawakkal seorang bayi sangat tinggi melangit, dibandingkan tawakkal kita kpd Allah, bayi tdk mampu berbuat apa2 dan menyerahkan takdir sepenuhnya utk diperlakukan spt apa, utk dibuang, digugurkan, dibunuh dsb. Tp Allah Maha Pelindung, sekiranya berkehendak sebaliknya, maka dihantar malaikat penjaganya.

Foto yg cukup menngagumkan, dan membuatkan kita terfikir akan keajaiban ciptaan & kuasa Allah SWT Selengkapnya...

Selasa, 20 November 2012

:

Mencontek sepertinya sudah menjadi kebiasaan sebagian pelajar dari mulai siswa SD sampai mahasiswa. Cara menconteknya pun semakin lama semakin beragam dan canggih. Kalau di zaman dulu contekan hanya ditulis di kertas kecil atau di buat coretan di atas meja. Sekarang contekan cukup dikirim melalui sms. Bukan hanya ulangan harian, semesteran bahkan ujian nasional pun tidak luput dari upaya contek mencontek. Parahnya lagi ditingkat mahasiswa, skripsi yang dibuat pun hasil mencontek.

Padahal mencontek punya dampak buruk bagi pelakunya. Dampak buruk ini ada yang langsung dirasakan akibatnya, tapi ada juga dampak yang sifatnya jangka panjang. Mencontek memiliki dampak buruk diantaranya yaitu:

1. Malas belajar.
Orang yang suka mencontek tidak akan punya motivasi belajar yang tinggi. Mereka justru semakin malas belajar dan mengandalkan contekan ketika menghadapi ujian. Akibatnya sangat jelas, pelajar dan mahasiswa seperti ini mungkin bisa dapat nilai bagus tapi pasti tidak bisa menguasai ilmu yang seharusnya mereka tahu.

2. Biasa bohong.
Mencontek memerlukan kebohongan untuk mensukseskan misinya. Orang yang biasa mencontek akan biasa pula berbohong. Mereka menjadi orang yang terbiasa tidak jujur kepada diri sendiri dan orang lain. Tentu kebiasaan bohong ini akan sangat berbahaya karena mereka bisa menjadi orang yang tidak dipercaya perkataan dan perbuatannya.

3. Menghalalkan segala cara.
Apapun akan dilakukan oleh orang yang biasa mencontek. Mereka akan mencari segala macam cara agar bisa mencontek dengan sukses. Cara halus dan kasar pun akan mereka lakukan. Bahayanya sikap menghalalkan segala cara ini bisa menjadi kebiasaan.

4. Menular.
Ada yang mengibaratkan mencontek itu dengan penyakit yang bisa menular ke semua orang. Jika melihat teman sekelasnya bisa mencontek, tetangga kiri dan kanannya pun pasti akan mengikuti. Kebiasaan buruk ini pun menular dan menyebar ke seantero kelas. Bahkan bisa juga menular ke kelas lain.

5. Tidak percaya diri.
Tukang nyontek itu orang yang tidak percaya diri. Semakin sering dia mencontek, semakin berkurang rasa percaya dirinya kalau dia bisa mengerjakan sendiri. Setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan untuk menerima pelajaran. Sayangnya sebagian orang ada yang malas menggunakan kemampuannya itu.
Dampak buruk mencontek lebih besar dari itu sebenarnya. Perilaku mencontek dengan segala dampak buruknya bisa menjadi kebiasaan di luar sekolah atau kampus. Mereka akan menjadi orang yang malas, suka bohong, menghalalkan segala cara, tidak percaya diri dan menjadi contoh yang buruk bagi teman-temannya.
Marilah kita hentikan kebiasaan mencontek dari sekarang, dimulai dari diri kita sendiri. Lebih baik dapat nilai bagus dari hasil belajar sendiri daripada dapat nilai jelek hasil mencontek. Iya kan?
Budaya Mencontek Mengikis Nilai Kejujuran Bangsa
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, nilai akhir dari sebuah ujian adalah tujuan utama. Nilai terbaik selalu mewakilkan pelajar yang terbaik, hal ini kemudian menjadikan pelajar memiliki orientasi bahwa sekolah adalah untuk mendapatkan nilai baik dan lulus. Orientasi pelajar yang demikian dapat menjadi bumerang bagi pelajar itu sendiri. Sebab mereka sering mengabaikan proses mendapatkan nilai tersebut dan hanya mencari cara mendapatkan nilai terbaik, yang membuat mereka mengambil jalan pintas, tidak jujur dalam ujian dan melakukan praktek mencontek. Jika ini terus dibiarkan, maka dunia pendidikan tidak akan maju, bahkan kelak menciptakan manusia tidak jujur, malas, yang cenderung mencari jalan pintas dalam segala sesuatu dan akhirnya menjadi manusia yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.
Mencontek dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dilakukan dengan usaha sendiri ataupun yang dilakukan dengan cara bekerjasama dengan teman atau bahkan guru. Mencontek dengan usaha sendiri dapat dilakukan dengan membuat catatan sendiri, membuka buku, membuat coretan kecil, bahkan mencuri jawaban teman. Sedangkan mencontek yang bekerjasama dapat dilakukan dengan cara membuat kesepakatan terlebih dahulu dengan teman untuk saling berbagi dan membuat kode-kode tertentu.
Dalam dunia pendidikan di Indonesia saat ini, kasus kecurangan dalam ujian bukanlah hal yang baru. Kecurangan dalam Ujian Nasional bisa terjadi karena adanya kesamaan target antara sekolah dan para murid yang sama-sama menginginkan kelulusan. Dengan adanya kesamaan tujuan ini, kegiatan contek-mencontek justru seakan difasilitasi oleh pihak sekolah. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kasus kecurangan dalam ujian yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Kebiasaan mencontek di sekolah ini merupakan pondasi awal hilangnya nilai-nilai kejujuran. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk mempelajari moral, justru telah menjadi “sekolah dasar” bagi generasi bangsa yang tidak memiliki kejujuran. Generasi muda seolah disiapkan untuk menjadi penerus yang tidak jujur. Perilaku mencontek yang terlihat sudah kronis, masih saja dianggap sebagai hal biasa. Saat ini mencontek seolah dianggap sebagai satu usaha yang sah-sah saja bila dilakukan karena tetap dilakukan dengan perjuagan dan usaha. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia sering dianggap telah gagal mentransformasikan nilai-nilai kejujuran kepada anak didiknya. Kondisi seperti ini bila dibiarkan akan membentuk karakter bangsa yang tidak memiliki nilai kejujuran dan kebohongan akan dianggap sebagai hal yang lazim dilakukan.
Menghilangkan permasalahan mencontek dari dunia pendidikan di Indonesia pasti sangat sulit. Namun dengan penerapan budaya malu setidaknya kita bisa meminimalisir permasalahan ini. Penerapan budaya malu yang perlu dilakukan bukanlah memberikan hukuman dengan mempermalukan si pelaku, melainkan melakukan internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi budaya malu tersebut. Setiap orang yang mencontek akan merasa bahwa setiap orang bahkan dirinya sendiri akan mengawasi dan menghakiminya ketika dia mencontek. Dan dengan penerapan budaya malu, maka akan memunculkan rasa ketidakpuasan atas prestasi akademik yang diperoleh dengan cara mencontek. Cara lain yang harus digunakan untuk meminimalisir masalah mencontek adalah penerapan nilai-nilai agama yang akan memunculkan perasaan bersalah dan perasaan berdosa.
Dengan demikian, tindakan mencontek ini dapat dipengaruh oleh beberapa hal, salah satunya psikologis anak yang belum siap dalam mengerjakan soal ujian dan orientasi anak yang menganggap bahwa sekolah adalah untuk mendapatkan nilai baik dan lulus. Ketidaksiapan dan orientasi tersebut yang mendorong anak untuk mencari cara agar mendapatkan nilai terbaik, yang pada akhirnya membuat mereka mengambil jalan pintas yaitu melakukan praktek mencontek. Budaya mencontek ini juga dapat menentukan posisi anak di dalam suatu masyarakat (sosiologis). Karena dengan mencontek dan mendapatkan nilai yang baik, anak akan dicap sebagai pelajar terbaik (pintar) dan dihormati bahkan disenangi oleh suatu masyarakat, tanpa memperhatikan bagaimana proses dalam mendapatkan nilai baik tersebut. Oleh karena itu, peran guru sangat penting agar dapat mencegah kegiatan mencontek tersebut yaitu dengan menambah pengawasan yang lebih ketat saat ujian agar tidak adanya peluang bagi pelajar untuk mencontek. Selain itu, guru juga tidak boleh memberi penilaian secara subjektif terhadap siswa misalnya dengan menilai jawaban siswa saja, tanpa mengetahui bagaimana proses siswa mendapatkan nilai tersebut. Saat ini, dunia pendidikan di Indonesia selalu menempatkan siswa sebagai objek, artinya bahwa siswa hanya sekedar peserta didik (orang yang tidak tahu apa-apa) dan tidak diberi pernah diberi kesempatan untuk berpendapat. Hal ini berdampak pada siswa yang tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki kepercayadirian, termasuk dalam menghadapi ujian yang menyebabkan siswa lebih memilih jalan untuk mencontek. Secara fisiologis, seharusnya dunia pendidikan memposisikan siswa sebagai subjek, artinya membiarkan siswa untuk melontarkan pertanyaan dengan kritis tentang segala sesuatu dengan bijak dan terarah. Serta menempatkan guru tidak sebagai dewa yang serba tahu, namun menempatkan guru sebagai sumber pertanyaan sekaligus mengarahkannya pada tujuan baik yang ingin dicapai. Dengan posisi seperti ini, anak didik akan merasa lebih leluasa untuk mengembangkan diri, karena ia selalu diberi kebebasan dalam berpikir, berpendapat dan bertindak. Selain itu anak didik juga akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena selalu di beri kepercayaan dan penghargaan oleh pendidik maupun kawan-kawan di sekelilingnya. Kepercayaan diri yang kuat inilah yang akan menghindarkan anak didik dari perilaku tidak jujur seperti mencontek.
Pendidikan sejatinya adalah sebuah proses yang harus dijalani manusia untuk memperoleh pencerahan dari ketidaktahuan. Dalam proses pendidikan tersebut, diperlukan penanaman nilai-nilai budi pekerti agar kelak ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat bagi orang lain. Namun saat ini, proses pendidikan tersebut sering mengabaikan penanaman nilai-nilai budi pekerti. Kasus kecurangan dalam ujian adalah contoh betapa salah satu nilai budi pekerti yaitu kejujuran dikesampingkan. Sekolah-sekolah juga terlalu sering menganggap bahwa mencontek bukanlah sebuah permasalahan. Sehingga para siswa terbiasa melakukan kegiatan mencontek tanpa memiliki beban moril. Sebagai bagian dari aspek moral, maka terjadinya menyontek sangat ditentukan oleh faktor kondisional yaitu suatu situasi yang membuka peluang, mengundang, bahkan memfasilitasi perilaku menyontek. Jika masalah mencontek ini masih saja dianggap sepele oleh guru dan orang-orang yang berperan dalam pendidikan kita, maka dunia pendidikan tidak akan maju, kreatifitas siswa akan hilang, yang tumbuh mungkin orang-orang yang tidak jujur yang bekerja disemua sektor kehidupan
Setiap kali UTS atau UAS bahkan UAN, hal mencontek memang sering dilakukan oleh siswa. Kadang Guru sebagai pengawas ruangan terlalu lunak terhadap fenomena ini. Ada kalangan guru mencari simpati siswa hanya dengan membiarkan anak-anak mencontek atau tanya kesana kemari pada teman yang dianggap pandai. Ini bertujuan agar guru tersebut disenangi oleh siswa-siswanya. Namun yang lebih parah lagi ada guru yang menyuruh siswa-siswanya untuk mencontek agar waktunya mengerjakan selesai dengan cepat. Padahal kalau kita mampu analisis, hasilnya anak nantinya akan menjadi bodoh dan ini yang disebut pembodohan. Astaghfirulloh….
Semoga ini bermanfaat biarpun sedikit. Semoga ini berguna walau sesaat. Dan semoga ini bisa menyadarkan, sekalipun sulit menyadarkan orang yang rela melakukan apa saja untuk keberhasilannya dan keberuntungannya.
Mari Bapak Ibu Guru di SMP Negeri 1 Sukodono saling berbenah, agar peserta didik di SMPN 1 Sukodono benar-benar menjadi generasi yang berkualitas, pandai & cerdas dengan melarang keras peserta didiknya  untuk mencontek pada setiap ulangan. Selengkapnya...

Selasa, 23 Oktober 2012

:

Setiap dari kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai petanggungjawabannya (al hadist). Dari hadis tersebut  dapat diketahui bahwa pemimpin tidak hanya dia yang mempunyai kedudukan, tidak hanya mereka yang mempunyai anak buah. Akan tetapi semua pribadi adalah pemimpin minimal pemimpin untuk dirinya sendiri.

Sikap kepemimpinan adalah suatu sikap pribadi yang mampu mengembangkan potensi diri, mampu menempatkan diri serta mampu berfikir terbuka dan positif terhadap diri dan lingkungan. Adapun sikap kepemimpinan ini tidak hadir dengan sendirinya melainkan dibangun dan dibentuk oleh pilar-pilar pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Student Leadership (Kepemimpinan Siswa) merupakan upaya untuk membangun sikap kepemimpinan dalam diri siswa agar menjadi siswa yang bertanggung jawab, siswa yang dapat menjalankan perannya sebagai siswa serta siswa yang dapat mengembangkan potensinya sebagai seorang pribadi. Student leadership dapat dibangun melalui berbagai macam kegiatan seperti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, Pondok Romadhon, Outbond tidak hanya itu Student Leadership juga dapat dibangun dalam proses pembelajaran seperti kegiatan belajar kelompok, diskusi serta pembuatan karya. Secara tidak langsung kegiatan –kegiatan tersebut dapat memberikan bekal terhadap siswa bagaimana mereka bertangggung jawab untuk menjadi siswa yang cerdas, siswa yang kreatif serta mampu menjadi “agent of change” di masyarakat. Melalui Student Leadership siswa akan mengerti bagaimana berorganisasi bagaimana memimpin dan bagaimana memilih pemimpin yang baik. Pembelajaran disekolah diharapkan tidak hanya menjadi proses transfer pengetahuan melainkan bagaimana belajar yang diartikan sebagai perubahan tingkah laku. Sehingga pembelajaran disekolah tidak hanya mementingkan keberhasilan “kognitif” melainkan afektif serta psikomotor harus dapat dibanngun secara bersama-sama. Sehingga siswa akan menjadi siswa yang utuh artinya siswa yang cerdas serta mampu berkiprah di masyarakat
Student Leadership sangat penting dalam dunia pendidikan hal ini dikarenakan siswa sebagai “agent of change” harus dapat memberikan perubahan di dalam masyarakat. Pendidikan merupakan salah satu sumber kebudayaan yang harus terus digali dan dikembangkan dan hal ini akan sangat optimal jika para siswanya mempunyai jiwa leadership yang kuat serta berkarakter karena dengan sikap seperti itu siswa akan terus mempunyai sikap tidak mudah putus asa, berfikir kritis, mampu mengungkapkan pendapat dalam proses pembelajaran.
Student Leadership dan pendidikan sebenarnya mempunyai hubungan timbal balik yaitu “take and Give “ dimana Student Leadership dapat dibentuk melalui kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah, begitupun sebaliknya pendidikan yang dibangun di atas pribadi yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat akan mengahsilkan output yang juga berkualitas tidak hanya dalam bidang akademis melainkan juga bagaimana ia berkiprah, memberi manfaat bagi dirinya, orang-orang sekitar serta masyarakatnya.
Student Leadership merupakan salah satu “Self Guidence” yang dapat membentuk siswa lebih percaya diri, mampu mengembangkan bakat serta menjadi suatu sarana untuk memberikan kesempatan kesempatan bagi setiap siswa untuk mengembangkan keseimbangan, kesabaran, dan pengarahan diri. Sehingga ketika para siswa telah dibekali dengan sikap-sikap kepemimpinan yang diharapkan sikap-sikap itu akan tumbuh menjadi karakter pada siswa maka dapat dipastikan kegiatan pendidikan, pembelajaran akan dapat terlaksana dengan baik sehingga output lulusannya pun akan menjadi baik, tidak hanya itu mereka akan dapat melaksanakan perannya di sekolah dengan penuh tanggung jawab sebagai siswa yang dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, tidak hanya itu mereka akan dapat mengembangkan kecakapan social mereka dalam berorganisasi di sekolah, dengan begitu mereka telah menghidupkan kegiatan-kegiatan non akademis sekolah seperti KOPSIS, OSIS, Pramuka, serta kepanitian yang juga merupakan elemen kecil dari pendidikan.
Dapat disimpulkan bahwa jika pendidikan itu dilaksanakan dengan baik dalam arti penuh tanggung jawab oleh berbagai pihak maka pendidikan akan dapat mencapai cita-cita bangsa secara umum yang salah satunya adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” serta dapat menjadi proses pembelajaran yang memberikan kompetensi kepada setiap pribadi siswa secara khusus.
Student Leadership dihubungkan dengan permasalahan siswa saat ini.
Kenakalan remaja merupakan salah permasalahan yang sering kita temui saat ini seperti tawuran, sering bolos sekolah, serta banyak sekali kenakalan-kenakalan remaja yang sering kita lihat di layer kaca kita, seperti yang sekarang lagi marak yaitu video tidak senonoh mirip artis yang juga dapat berpengaruh kepada perkembangan moral siswa. Dalam hal ini Student Leadership sangat dibutuhkan sebagai control diri untuk dapat membentengi, menyikapi serta mengatasi gejolak hidup yang sering menghampiri.
Siswa yang mempunyai pemahaman tentang Student Leadreship atau lebih jauhnya Student Leadership mampu menjadi karakter dalam diri siswa akan memberikan perbedaan bagaimana seorang siswa menyikapi masalah dengan seseorang yang tidak mempunyai pemahaman Student Leadership. Sebagai contoh seseorang yang mempunyai sikap kepemimpinan mereka akan bertanggung jawab terhadap perannya sebagai siswa atau sebagai seeorang yang diberi tanggung jawab untuk menjadi seorang pengurus suatu organisasi, mereka tidak akan menganggap itu menjadi suatu beban melainkan suatu amanah sehingga mereka akan malaksanakan dengan penuh kesadaran diri tanpa mengeluh karena mereka menganggap kegiatan itu juga akan memberikan manfaat buat diri dan lingkungannya, berbeda dengan seseorang yang tidak mempunyai pemahaman Student Leadership mereka akan suka menyalahkan orang lain, mempunyai pribadi penuntut dan lebih sering lagi lari dari masalah, ketika ada suatu masalah siswa yang tidak punya pemehaman student Leadership hanya akan bergelut dengan pertanyyan siapa yang harus disalahkan dari masalah ini, bukan bagaimana permasalahan ini diselesaikan.
Dengan demikian Student Leadership sangat dibutuhkan siswa sebagai bekal yang harus selalu dikembangkan agar mereka dapat memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupan mereka tidak hanya dengan benar melainkan tepat. Sebagaimana telah dicantumkan dalam kurikulum KTSP 2006 bahwasanya pembelajaran mempunyai tujuan utama yaitu mereka mampu memecahkan masalah yang mereka hadapi.
Kata bijak berkata Kesuksesan bukanlah apa yang mereka dapatkan melainkan bagaimana kita menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan tepat ( anonym)
Himbauan untuk siswa masa depan ( abad 21) dalam menerapkan karakter “Student Leadership “ di Sekolah.
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang ( Prijosaksono Ari, 2004)
Muhibbin Syah menulis dalam bukunya yag berjudul Psikologi Pendidikan mengatakan bahwa Karakter itu dibangun dari apa yang diketahui, dipahami, dan dibiasakan. Oleh sebab itu ketika Student Leadership diharapkan mampu menjadi karakter maka sikap-sikap itu harus terus dipelajari dan dibiasakan, dimana pembelajaran tidak hanya terbatas dari apa yang disampaikan oleh guru di kelas, lebih dari itu belajar dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun.
Student Leadership memberikan banyak manfaat terhadap pembentukan karakter siswa sebagimana yang telah disampaikan di atas. Kepemimpinan Siswa hendaknya dipahami sebagai bentuk usaha pengembangan diri yaitu pola piker dan pola hidup. Bahwasanya kita hidup haruslah berusaha untuk terus menjadi lebih baik dari hari ini untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain ( al hadist). Semoga hadist tersebut dapat menjadi motivasi untuk kita semua agar menjadi siswa yang bermanfaat buat orang lain, denga begitu kita akan mempunyai motivasi untuk selalu mengembangkan potensi diri, belajar dari hal kecil yang ada, belajar menghargai diri sendiri dan orang lain serta belajar membuka hati, pikiran untuk dapat menerima nasehat, kritik saran dari para sahabat kita, guru kita, orang tua kita. Dibutukan komitmen dan disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar, dan berkembang baik secara internal.
Akan ada banyak gejolak dan dilema yang akan kita temui hari ini, esok dan lusa dibutuhkan usaha keras untuk terus mengisi diri secara spiritual, akademis dan social secara seimbang agar kita mampu menjadi pribadi yang utuh dan lebih baik.
Semoga kita sebagai siswa sebagai generasi akhir zaman mampu menjadi “agent of change” dimasyarakat, membangun masyarakat yang lebih cerdas, berfikir terbuka, kreatif, dan inovatif menghadapi zaman yang semakin maju serta yang paling penting adalah menjadi pribadi yang berakhlakul karimah. Sebagaimana yang diteladankan Rosululloh, beliau adalah sosok teladan sepanjang zaman dalam berbagai segi kehidupan.

Selengkapnya...

:

Lost Generation VS Gold Generation
Aneh, benar-benar aneh! Kelulusan tahun 2012 ini diwarnai keanehan. Prediksi para pakar meleset. Model soal UN 5 kode berbeda dan komposisi tempat duduk diacak bergantian setiap hari tidak menyurutkan target sekolah. Kelulusan tetap naik, dan terbukti berhasil. Yaa mirip-mirip guyonannya almarhum Asmuni Srimulat: suatu hil yang mustahal. Para pengampu kebijakan menggunakan alasan baku : semua berkat persiapan dan kerja keras siswa dan pihak sekolah.
Prediksi dan logika sederhananya, dengan tingkat kesulitan soal yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya (seperti diungkapkan pak Nuh jauh hari sebelum UN) serta model UN yang diatur sedemikian rupa agar anak bekerja mandiri dan jujur, nilai siswa diperkirakan tidak lebih baik dari tahun sebelumnya. Bahkan yang tidak lulus bisa lebih banyak. Bukan berarti pesimis, hanya estimasi. Namun, nampaknya nasib berkata lain. Upaya ”kerja keras” dan  ”berita dari langit” membalikkan prediksi.  Nilai anak-anak bagus-bagus. Dan tentunya banyak yang lulus.
Banggakah anda? Nanti dulu! Anda para pendidik, pasti tidak menutup mata dan telinga. Berbagai kabar miring berhembus sejak UN berlangsung. Kode soal beda dan posisi tempat duduk acak ternyata tidak menyurutkan semangat anak-anak berimprofisasi, mencari celah. Tidak kalah mengejutkan, beredarnya  kunci jawaban via SMS, baik sebelum atau saat pelaksanaan UN pada  hari H membuat kebanggaan atas tingginya nilai UN beserta kelulusan berbalik 180 derajat. Entah kunci jawaban tersebut valid atau tidak. Apalagi ini diperkuat warta di media yang  mengungkap modus jual beli kunci jawaban yang dilakukan sekolah/madrasah di Surabaya dengan salah satu lembaga bimbingan belajar. Itu yang ketahuan, yang tidak? Sungguh mencoreng nilai-nilai kejujuran yang dijadikan jargon UN. Kebanggaan berujung keprihatinan. Yaa, siapa saja boleh bangga. Siapa saja boleh menepuk dada. Tetapi semua juga harus introspeksi. Apakah upaya dan hasil sudah seimbang? Apakah upaya yang dilakukan sesuai dengan norma? Baik norma dalam konteks pendidikan, sosial bahkan agama?  Jika rambu-rambu kehidupan dilanggar, hasil apapun tidak bisa dibanggakan.
Terlepas dari polemik tingkat kelulusan siswa, rencana Kemendikbudnas mengintervensi sekolah-sekolah yang angka kelulusannya 0% patut diacungi jempol. Alibi, bahwa sekolah yang siswanya banyak tidak lulus karena SDM pendidik beserta fasilitas pendidikannya kurang layak memang harus diapresiasi. Bentuk treatment yang diperlakukan ada 3 jenis. Pertama, guru-guru di sekolah tersebut diberi pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan profesionalitasnya. Kedua, melengkapi sarana dan prasarana. Dan ketiga, dilakukan pertukaran guru. Pertukaran guru yang dimaksud, guru dari sekolah yang nilai UN rendah atau banyak yang tidak lulus, tugas belajar di sekolah maju, serta guru dari sekolah berhasil mengajar di sekolah yang kelulusannya rendah agar diperoleh transfer pengalaman belajar. Pola seperti juga yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di NTT. Tetapi perlu ditambah dengan melakukan pendampingan akademik dari perguruan tinggi. Harapannya, jika SDM memadahi, sarana prasarana terpenuhi, kelulusan merupakan suatu keharusan.
Lunturnya kebanggaan atas kelulusan ini berlanjut. Perasaan kita sebagai pendidik kembali teriris tatkala melihat tingkah polah anak-anak yang merayakan kelulusan. Aksi corat-coret baju, badan, konvoi hingga pesta yang sebagain menjurus melanggar susila disuguhkan anak-anak ini. Seakan mereka lupa dengan ajaran yang diterima selama belajar di sekolah. Beralasan sebagai pelampiasan rasa suka cita melepaskan kepenatan stress, model hura-hura lulusan usia ABG ini tidak patut dicontoh. Meski sekolah sudah berupaya mencegah, namun usaha ini hanya ampuh ketika siswa berada di dalam pagar lingkungan sekolah. Keluar dari halaman sekolah mereka bebas.
Hal ini yang perlu ditangani sejak dini. Karena bagaimanapun juga, selama mereka belum menerima ijazah dan merasa bagian dari keluarga besar civitas akademika sekolah tidak sepantasnya para lulusan ini melakukan perbuatan negatif. Untuk itu sekolah bisa menerapkan aturan tegas terkait perilaku siswa usai kelulusan. Bagi siswa yang melakukan pelanggaran, tidak diberikan surat keterangan kelakuan baik. Sekolah juga perlu menjalin kerjasama dengan masyarakat sekitar dan kepolisian untuk mengawasi serta menindak siswa yang melakukan kegiatan yang mengganggu ketertiban masyarakat, berbuat tidak baik apalagi melanggar hukum. Sekali waktu sekolah memang harus tegas dan tega sebagai sock terapi. Masih banyak kegiatan positif untuk mensyukuri kelulusan seperti doa bersama,  menyantuni fakir miskin, melaksanakan bhakti sosial atau sekedar memberi tali asih untuk guru.
Meski sebenarnya tindakan negatif yang disuguhkan lulusan bukan mutlak salah meraka. Sekolah juga berperan. Para pembaca bisa menduga sendiri. Yaa, sejak 2 tahun terakhir dengan menerapkan formula keluluasan (NA= 0,6NU+0,4NS) yang mengakomodir nilai sekolah, benar-benar menguji idealisme guru. Nilai NS anak-anak rata-rata bagus. Tak terkecuali nilai siswa yang langganan remidi bahkan anak-anak nakal yang sering mangkir tugas dan ulangan. Kebaikan hati guru ini disalah artikan siswa. Dan efeknya berlanjut saat UN hingga kelulusan. Hak prerogratif guru terkebiri, kewibawaan pun ikut luntur. Jadi, para guru, kepala sekolah dan para pengambil kebijakan pendidikan tidak perlu mendewakan kelulusan UN. Semua tahu apa yang terjadi selama UN. Siapa ditipu siapa menipu. Makanya jika sekolah-sekolah mempromosikan Lulus 100% sebagai magnet untuk menarik calon siswa baru, hal ini seperti mau mengiklankan rokok itu sehat. Iklan yang tidak perlu ditayangkan.
Entah sampai kapan negeri ini terlalu bangga dengan suguhan angka-angka. Tidak melihat proses sesungguhnya. Jika apa yang terjadi selama UN dan selama proses pendidikan masih terkontaminasi kepentingan politik, sekolah hanya akan melahirkan generasi semu. Suatu saat akan terjadi lost generation, generasi yang hilang. Generasi yang tidak mempunyai kebanggaan atas jati dirinya sendiri. Generasi emas yang diidamkan tidak terwujud. Gagal hanya  karena ambisi sesaat. Jika dunia  pendidikan tidak berbenah, suatu saat kita akan menyesal, dan itu sudah terlambat. Akankah hal ini dibiarkan? Pilih Gold Generation atau Lost Generation?
Tulisan ini dimuat di majalah media edisi September 2012
Selengkapnya...

;;