MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS KESALAHAN-KESALAHAN YANG PERNAH SAYA LAKUKAN BAIK YANG DISENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA ..... SEMOGA ALLAH MASIH MEPERTEMUKAN KITA PADA RAMADHAN 1436H AMIN .. AMIN..MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS KESALAHAN-KESALAHAN YANG PERNAH SAYA LAKUKAN BAIK YANG DISENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA ..... SEMOGA ALLAH MASIH MEPERTEMUKAN KITA PADA RAMADHAN 1436H AMIN .. AMIN.MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS KESALAHAN-KESALAHAN YANG PERNAH SAYA LAKUKAN BAIK YANG DISENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA ..... SEMOGA ALLAH MASIH MEPERTEMUKAN KITA PADA RAMADHAN 1436H AMIN .. AMIN.

Senin, 12 September 2011

:

SEBUAH RENUNGAN !

Jangan apriori dulu membaca judul di atas. Memang tidak ada aturan resmi tentang larangan guru memberi nilai kurang kepada siswa. Belum jelas sanksi yang diterima bagi guru yang memberi nilai kurang. Tetapi bapak ibu guru mengalami ada larangan memberi nilai kurang.

Ketika guru memberi ulangan harian, dan ada siswa mendapat nilai kurang, menjadi kewajiban guru memberi remedial. Namun jika beberapa kali siswa tidak mampu memenuhi KKM, apa daya itulah hasil terbaik siswa. Toh dalam kriteria kenaikan yang menjadi wewenang sekolah tercantum, siswa bisa naik kelas jika maksimal terdapat beberapa nilai kurang dari KKM. Suatu kebijakan untuk menolerir batas kemampuan anak multi talenta.

Hingga rapat guru akan menentukan nasib anak yang belum memenuhi kriteria kenaikan. Wajar anak yang nilainya tidak memenuhi syarat apalagi nakal tidak naik kelas. Memberi pelajaran terbaik bagi pendidikan. Tidak hanya kepada anak yang tinggal kelas, tetapi juga yang lain.

Nilai Kurang Bukan Barang Tabu

Namun apa yang terjadi akhir-akhir ini? Setelah formula kelulusan mengakomodir nilai rapor serta nilai ujian sekolah, nilai-nilai kurang itu dianggap tabu bagi pendidikan. Apa sebab? Mudah diterka. Sekolah kuatir, jika nilai rapor dan nilai ujian sekolah rendah, akan banyak anak yang gagal lulus sekolah.
Angka-angka pun bermetamorfosis. Angka-angka kurang yang biasa melekat pada anak berkemampuan rendah lenyap bagai tersapu angin. Kalau secara statistik nilai anak ini biasanya berdistribusi normal, kali ini miring ke kanan. Baik semua. Parahnya ketika diverifikasi dan dilakukan tindakan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kelulusan), biasanya justru anak-anak yang nilainya sangat kurang dan nakal mendapat hibah nilai lebih banyak. Yang belum dipikirkan secara masak, bagaimana tanggapan anak, orang tua atau siapapun, ketika suatu saat membaca nilai anak-anak yang biasanya di bawah standart tiba-tiba melonjak drastis?

Ada cerita, ketika acara menganugrahkan kepada lulusan terbaik, yang tampil sebagai pemuncak sebagian diisi anak-anak yang biasanya langganan remedial dan nakal. Tidak hanya teman, guru atau orang tua, masyarakat awam yang sudah mengenal anak-anak seperti ini kaget. Jangan heran bila ada orang memberi sindiran bahwa guru waktu memberi nilai matanya terpejam. Ini menunjukkan masyarakat awam tidak antipati terhadap nilai kurang. Asal nilai itu diperoleh melalui proses benar dan proporsional dengan kemampuan anak. Jadi nilai kurang bukan barang tabu lagi. Mengapa takut memberi nilai kurang?


Kecurangan sistematis berdampak sistemik

Sementara efek bola salju formula kelulusan UN menggelinding. Sedikit demi sedikit dampaknya terasa. Kekuatiran berlebihan itu menjelma bagai mimpi buruk di siang bolong. Kabar burung yang berhembus, praktek pendongkrakan nilai sekolah ini sudah sampai ke pusat. Wajar sekali jika Kemendiknas nantinya akan memberi sanksi bagi sekolah yang terbukti melakukan kecurangan. Tidak hanya pada saat UN, tetapi juga membandingkan nilai sekolah (NS) dan nilai UN.

Bila terdapat gap quality mmencolok, bisa disimpulkan ada kecurangan. Perbedaan yang terlalu jauh antara NS dan UN menunjukkan pendongkrakan NS tidak wajar. Sekolah yang melakukan hal ini akan diberi sanksi pemotongan anggaran sekolah. Sebaliknya sekolah yang rata-rata UN-nya diatas NS akan diberi intensif (JPNN, 6 April 2011). Belakangan ancaman dipertegas, Kemendiknas akan mendelete nilai sekolah jika dianalisa terjadi pendongkrakan NS. Serta akan menghapus nilai UN siswa yang melakukan kecurangan dalam UN. Kepsek yang ditengarai melakukan kecurangan juga akan diberi sanksi. Dicopot jabatannya. (JPNN/Jawa Pos, 11-4-2011)

Bila sinyalemen pendongkrakkan ini benar, maka dunia pendidikan akan menggali lubang kubur untuk bangsanya sendiri. Semua pihak mengakui bahwa pendidikan adalah invenstasi jangka panjang. Keberhasilan pendidikan tidak bisa dilihat dalam waktu singkat. Panampakan keberhasilan pendidikan dalam bentuk angka sepertinya membuat orang terlena dan terpedaya.

Dampak toleransai kecurangan dan kemudahan kelulusan yang terjadi pada masa lalu saja telah menimbulkan kesan negatif pada siswa. Bapak ibu guru bisa mencermati perilaku siswa. Berapa persen anak yang serius dengan UN? Melihat hasil try out kurang dari syarat kelulusan serta menjelang UN, banyak siswa santai-santai bukan?
Inilah dampak awal sistemik pola kecurangan pelulusan siswa. Jika pendidikan melahirkan lulusan karbitan, republik ini di masa depan akan menerima warisan generasi semu. Generasi tanpa kemampuan sebenarnya. Bagaimana nasib bangsa jika nantinya dipimpin orang yang bukan ahlinya? Kalau manipulasi angka rupiah bisa berujung penjara, bagaimana dengan manipulasi angka rapor atau ujian? Moralitas bangsa semakin tenggelam bak digulung tsunami. Efek sistemik kecurangan dunia pendidikan yang menakutkan.Pelanggaran penilaian

Nilai kurang sebenarnya hal biasa. Namun sering ada ungkapan ketika seorang guru memberi nilai kurang dan ter(di)paksa memberi nilai baik. Berbagai celotehan pun muncul. Guru jangan pelit memberi nilai. Toh nilai bukan dari hasil membeli. Jadi berilah nilai anak yang bagus-bagus. Ibadah kan tidak harus bersedekah dengan harta. Sedekah nilai juga sebagian dari ibadah. Repot juga kalau Tuhan dibawa-bawa hanya untuk urusan nilai. Padahal Tuhan tidak butuh nilai. Tuhan lebih butuh bagaimana seseorang memperoleh nilai dengan jalan yang benar.
Guru pun bisa terpojok bila memberi nilai kurang. Banyaknya anak yang mendapat nilai kurang dianggap sebagai cermin kegagalan pembelajara guru dalam kelas. Kegagalan administratif. Sehingga guru mengambil jurus pamungkas. Daripada repot dan malah dibenci siswa, lebih baik obral nilai saja. Rambu-rambu penilaian sementara (dan seterusnya) dilanggar!

Budaya ABS VS Hati Nurani

Ada budaya yang sulit dihilangkan dalam kehidupan sosial birokrasi kita. Budaya ABS (Asal Bapak Senang). Sajian angka-angka tinggi lebih menarik daripada angka kurang. Sementara dalam hati tahu apa yang terbaik dilakukan. Yang jelas ABS dan hati nurani bagai dua sisi mata uang.

Ingin Selamat (tidak) harus berbuat benar! Pernah mendengar ungkapan seperti ini bukan? Contoh sederhana bisa pembaca lakukan di jalan raya. Kalau pembaca berkendara di jalan raya, kemudian dari arah depan ada kendaran menyalip dan melewati marka jalan. Sedangkan jalan hanya cukup dua lajur dan pembaca merasa di jalur yang benar? Apa yang pembaca lakukan? Kalau pembaca menganut kebenaran, musibah siap menimpa. Tetapi kalau mengalah dengan turun ke tepi, minimal kita tidak tertabrak. Meski kadang terpaksa tersungkur karena terjalnya tepi jalan.

Tidak banyak harapan guru selain menginginkan anak didiknya berhasil. Keberhasilan anak didik yang ditorehkan guru dalam bentuk angka sebagai penghargaan atas jerih payah belajar siswa. Guru akan bangga dan senang bila kerja keras guru mencerdaskan anak bangsa dihargai. Bukan dilecehkan. Tidak ada niatan guru untuk mematikan siswa hanya dengan nilai. Nilai adalah pembeda. Kelak bangsa ini bisa memilih kader terbaik untuk negeri tercinta. Perbedaan kemampuan akan melahirkan kehidupan yang indah.

Memberi hak kepada guru untuk menilai dengan ikhlas merupakan kunci untuk membangun idealisme guru dengan cara yang benar. Guru bukan monster yang tega dengan anaknya sendiri. Guru adalah manusia yang punya hati nurani untuk membuat keputusan dengan bijaksana. Bukan terpaksa dan direkayasa.

Sebagai bawahan di sekolah tentu guru sepatutnya sami’na wa atho’na. Mendengan dan taat perintah atasan. Jadi bagaimanapun idealisme seorang guru, pada akhirnya bisa luntur jika tidak ada pengayomnya. Diperlukan pemimpin pemberani untuk menyampaikan kebenaran walaupun itu pahit. Selama proses pendidikan dilalui dengan kerja keras dan benar hasil terburuk sekalipun harus siap diterima.

Pendidikan Karakter dengan Nilai

Kebenaran harus dijunjung, idealisme tetap dipegang. Sudah satu tahun Pendidikan Karakter Bangsa dicetuskan. Pemberian nilai sesuai rambu-rambu penilaian merupakan salah satu wujudnya. Di hari Pendidikan Nasional tahun ini saatnya kita merenung. Bahwa keberhasilan pendidikan jangan dilihat dari angka-angka. Pendidikan harus tetap berjalan di relnya, jangan terkontaminasi. Pendongkrakan nilai justru membunuh karakter. Tidak hanya siswa tetapi juga guru. Guru akan tersanjung bila nilai guru mampu membangkitkan siswa untuk belajar demi masa depannya dari hasil kerja keras dan belajar mandiri.

Dalam waktu dekat para guru dapat menguji diri. Berapa nilai minimal siswa pada rapor semester genap. Masihkah menggunakan KKM terdahulu, bila nantinya Formula Kelulusan 2011 tetap berlaku? Apa ada kenaikan drastis tanpa menggunakan menggunakan indikator penentuan KKM? Semoga tidak ada pencanagan program : Guru Dilarang Memberi Nilai Kurang! Sebuah renungan untuk merefleksi Pendidikan Nasional. Selengkapnya...

Senin, 29 November 2010

PENDIDIKAN DEMOKRASI BAGI GURU

:

ulisan sdr Muhibuddin di opini Jawa Pos (25/11) mengusik guru untuk berintrospeksi. Layakkah guru berdemo? Sudah mampetkah saluran demokrasi bagi guru? Jika selama ini guru merasa terkekang hak asasi berpendapat, ini hal yang ironis di era reformasi. Mungkin juga guru tidak mempunyai keberanian bersikap secara individu. Namun, jika demo menjadi senjata pamungkas untuk melampiaskan hasrat berdemokrasi, perlu pertimbangan masak-masak.

Sebagai insan cendekia, guru seyogyanya mampu menahan diri untuk tidak bertindak arogan, tidak sopan santun apalagi anarkis. Guru adalah teladan bagi siswanya. Apa yang dilakukan guru akan dianut dan ditiru siswa. Masih ada jalan elegan untuk menyampaikan pendapat. Baik melalui forum ilmiah, media atau organisasi guru (PGRI). Keberanian guru menyampaikan kebenaran dalam bentuk tulisan di mass media akan lebih baik untuk membangun opini publik dan bernilai akademik.

Perlu juga guru disegarkan kembali pemahaman demokrasi dengan pendidikan demokrasi. Agar penyaluran aspirasi guru lebih tepat sasaran, bernilai ilmiah, bermartabat serta mendapat simpati dan empati. Demokrasi jangan diidentikkan dengan demo. Agar guru tetap digugu dan ditiru. Selengkapnya...

:


Ini bukan pertanyaan kuis seperti yang dilontarkan Jaja Mihardja sambil memejamkan sebelah mata sewaktu memandu acara kuis dangdut di TPI. Kalau ini menjadi bahan lelucon Jaja, orang mungkin akan bertanya. Jaja Miharja itu tidak tahu beneran, ungkapan ketidakpercayaan, atau melecehkan? Orang awam pun bisa jadi bertanya-tanya, seperti apa guru profesional itu? Bukankah selama ini guru sudah digaji rutin setiap bulan. Bukankah itu sudah mewakili bentuk penghargaan profesional?

Yaa, kalau orang mengatakan demikian tidaklah salah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata profesional berarti suatu pekerjaan yang memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Bisa juga diartikan suatu pekerjaan yang mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya. Hal ini jelas menunjukkan tidak sebarang orang yang melakukan pekerjaan dikatakan profesional. Disamping harus mempunyai keahlian khusus, seorang profesional pantas menerima penghargaan yang layak dalam bentuk finansial.

Sudahkah hal ini cukup menggambarkan bahwa selama ini guru sudah dihargai sebagai tenaga profesional. Kata profesional harus dilihat dari konteks dan kontainnya. Kata profesional identik dengan penghargaan dengan jasa yang telah diberikan seseorang dengan hasil nyata yang secara umum bisa langsung dilihat, dirasakan dan dipertanggungjawabkan.

Orang dengan mudah mengambil contoh tenaga profesional itu seperti dokter, manager, arsitek, konsultan, pengacara, akuntan dan lain-lain yang hasil kerjanya memang benar-benar cepat dirasakan. Bagaimana dengan guru? Berjam-jam, berhari-hari sampai bertahun-tahun guru mendidik anak belum terlihat dengan cepat akan jadi apa anak itu nanti. Bahkan karena ada anak yang nakal, tidak naik, tidak lulus ujian mengakibatkan dengan cepatnya masyarakat memvonis guru gagal dalam menjalankan tugasnya. Vonis yang terlalu kejam.

Hakim saja perlu waktu panjang untuk memvonis seorang tersangka. Perlu pertimbangan, saksi, bukti dan faktor-faktor lain yang mungkin meringankan, memberatkan bahkan membebaskan seorang tersangka. Seorang profesional layak dihargai tinggi, tetapi juga siap menerima claim, dan menanggung ganti rugi jika jasa yang diberikan tidak sesuai yang dijanjikan.
Handicap masyarakat yang sudah memvonis bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang harus dengan tulus ikhlas mengabdikan dirinya kepada masyarakat telah menina bobokkan masyarakat untuk tidak memberikan nilai lebih kepada guru secara finansial. Guru harus bekerja siang malam agar anak-anak mereka menjadi pintar. Sekolah adalah pusat belajar tempat menitipkan dan sebagai bengkel untuk anak mereka yang mungkin karena kesibukan, ketidakmampuan atau ketidaktahuan akan pendidikan. Para orang tua sudah pasrah bongkokan kepada para guru untuk mendidik anak mereka tanpa peduli bagaimana guru mendidik bahkan bagaimana para guru hidup dan menghidupi keluarga.

Masyarakat baru tersadar manakala anak-anak mereka yang waktu sekolah dididik bahkan dengan hukuman, setelah belasan atau puluhan tahun menjadi orang sukses. Itupun karena anak-anak mereka yang sudah besar tersebut menyadari dan merasakan bahwa tanpa bimbingan guru baik itu ilmu yang didapat, pujian, hukuman, kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler yang banyak menyita waktu telah membentuk mereka seorang pejuang yang tak kenal putus asa hingga mereka berhasil. Boleh dikata kesadaran yang terlambat. Ketika mereka ingin membalas jasa kepada gurunya, gurunya sudah banyak yang pensiun atau mungkin meninggal.

Apalagi dengan adanya BOS dan janji-janji calon pemimpin dalam pilkada, yang menjadikan issue pendidikan sebagai komoditi yang ampuh untuk pemilih dengan menjanjikan pendidikan murah bahkan gratis. Pendidikan semakin dianggap barang murahan, meski pada kenyataannya pendidikan itu mahal. Dengan anggapan mayoritas masyarakat seperti ini, sekolah (negeri ataupun swasta) harus memutar otak, bagaimana mengelola anggaran yang ada agar operasional sekolah dapat berjalan dan guru tetap bekerja. Kadang hal ini harus mengesampingkan pengorbanan dan penghargaan kepada guru.

Tuntutan-tuntutan masyarakat tentang pendidikan berkualitas berujung pada kinerja guru. Masyarakat menuntut guru-guru bekerja secara profesional. Kata profesional akhirnya diberi makna sempit. Guru bekerja dan mendapat upah yang layak. Jika itu terjadi, guru tidak akan ada bedanya dengan profesi lain, dan cenderung membentuk orang materialistis. Tetapi kalau profesional itu diberi makna secara makro, sangat berat tantangannya.

Guru profesional menuntut beberapa kompetensi kompleks. Guru harus mempunyai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional itu sendiri. Tinggal bagaimana para guru menyikapi dan menjawab tantangan tersebut sekaligus instropeksi. Apakah guru-guru sudah mengajar sesuai kualifikasi akademik? Sudah cukupkah pengabdian guru yang demi anak didiknya harus ”tidur” di sekolah menyelesaikan tugas-tugas sekolah? Bagaimana kehidupan sosialnya?Apakah kualifikasi akademik yang dimiliki sudah diterapkan dalam pengajaran? Apakah guru merasa dirinya profesional? Pertanyaan-pertanyaan yang bisa dijawab sendiri oleh guru. Jawaban yang bisa dipertanggung jawabkan kepada dirinya sendiri, masyarakat dan kepada Tuhan.

Sementara sertifikasi yang kini bergulir tidak sesuai ide awal pencanangan program ini. Begitu Profesor Djaali menyampaikan di seminar guru pendamping OSN yang berlangsung di Medan tanggal 3 - 4 Agustus 2010. Pemberian Tunjangan Profesi Pendidik masih seperti pemberian ransum bergilir. Bukan guru profesional dalam arti sesungguhnya. Kalau ada ungkapan, yang tua harus mengalah, kini ungkapan itu berbalik. Yang tua harus diutamakan.

Yang muda berprestasi dan menjadi guru profesional dalam arti sesungguhnya harus mengalah. Salah satu alasan, usianya masih muda dan kelak akan menerima TPP lebih lama. Padahal umur hanya Tuhan yang Tahu. Dengan keadaan demikian ada ungkapan yang tidak enak didengar, Sing waras ngalah. Nah, apa ini tidak malah menyakitkan? Selengkapnya...

TERIMA KASIH GURU

:


TERIMA KASIH GURU

Tetesan ilmu itu lenyapkan nila
Kebodohan
Amarah itu ciptakan nyali
Pejuang sejati
Petuah itu lahirkan jiwa
Suci
Kasih sayang itu ciptakan rasa
Cinta
Doa itu membuka jalan
Raih cita

Tak sempat ku persembahkan
Kado terindah buat kenangan
Sebaris kata terukir
Terima Kasih Guruku Selengkapnya...

Rabu, 13 Oktober 2010

BAHAYA MIE INSTAN

:


Siapa yang tidak suka mie. Berbagai produk mie hadir menggoda penikmat. Mulai mie olahan sendiri hingga instan. Makanan asal negeri seberang ini menjadi menu vaforit. Lihat saja di sekitar. Mulai kaki lima hingga hotel bintang 5 menyajikan mie sebagai salah satu menu andalan.

Namun sayang, akhir-akhir ini sering diberitakan banyak produk mie yang dijual dipasaran mengandung zat berbahaya. Diberi bahan pengawet. Bagi pengusaha mie, alasan pemberian pengawet untuk mencegah mie busuk. Karena produk utamanya mie basah. Jika mie basah ini tidak laku dalam satu hari saja, pasti busuk.

Nah, ternyata mie keringpun ditengarai juga ada yang diberi pengawet. Tidak tanggung-tanggung. Sebuah mie terkenal, Indomei diduga juga mencampurkan bahan pengawet yang tidak memenuhi standar internasional. Sehingga pemerintah Taiwan melarang/menarik Indomei dari peredaran di taiwan. Karena melanggar ketentuan penggunaan zat tambahan/pengawet.

Berita ini tentu saja mengejutkan. Karena mie yang dimaksud, di Indonesia menjadi salah satu produk terbesar yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Jika memang benar ada bahan pengawet dalam mie kemasan ini dan sudah memenuhi standar nasional maupun internasional, mie itu tetap saja memuat zat berbahaya. Meski sedikit jika dikonsumsi terus menerus, dalam tubuh akan semakin mengumpul. Mungkin juga mie instan produk lain juga mengandung zat pengawet.

Makanya kita tidak menjumpai ada tulisan "tidak mengandung bahan pengawet" dalam kemasan mie instan yang beredar di Indonesia. Seperti halnya beberapa produk makanan dan minuman lain yang memberanikan diri menuliskan kalimat seperti di atas. Jika tuduhan pemerintah Taiwan ini benar, sudah sepatutnya ini sebagai peringatan dan pelajaran bagi kita. Bahwa penerapan standar tinggi terhadap produk makanan mutlak dilakukan. demi kesehatan manusia itu sendiri. Selengkapnya...

ARTI LAMBANG OSIS

:


Arti OSIS


OSIS (kepanjangannya adalah Organisasi Siswa Intra Sekolah) adalah suatu organisasi yang berada di tingkat sekolah di Indonesia yang dimulai dari Sekolah Menengah yaitu Sekolah Menengah Pertama((SMP)) dan Sekolah Menengah Atas((SMA)). OSIS diurus dan dikelola oleh murid-murid yang terpilih untuk menjadi pengurus OSIS. Biasanya organisasi ini memiliki seorang pembimbing seorang guru yang dipilih oleh pihak sekolah.
Anggota OSIS adalah seluruh siswa yang berada pada satu sekolah tempat OSIS itu berada. Seluruh anggota OSIS berhak untuk memilih calonnya untuk kemudian menjadi pengurus OSIS.
1. Lambang OSISGambar lambang OSIS :

Arti bentuk dan warna lambang OSIS :

A. Bunga bintang sudut lima dan lima kelopak daun bunga.
Generasi muda adalah bunga harapan bangsa dengan bentuk bintang sudut lima menunjukkan kemurnian jiwa siswa yang berintikan Pancasila. Para siswa berdaya upaya melalui lima jalan dengan kesungguhan hati, agar menjadi warga negara yang baik dan berguna. Kelima jalan tersebut dilukiskan dalam bentuk lima kelopak daun bunga, yaitu : abdi, adab, ajar, aktif dan amal.

B. Buku terbuka.
Belajar keras menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi, merupakan sumbangsih siswa terhadap pembangnaun bangsa dan negara.

C. Kunci pas.
Kemauan bekerja keras akan menumbuhkan rasa percaya pada kemampuan diri dan bebas dari ketergantungan pada belas kasihan orang lain, menyebabkan siswa berani mandiri. Kunci pas adalah alat kerja yang dapat membuka semua permasalahan dan kunci pemecahan dari segala kesulitan.

D. Tangan terbuka.
Kesediaan menolong orang lain yang lemah sesama siswa dan masyarakat yang memerlukan bantuan dan pertolongan, yang menunjukkan adanya sikap mental siswa yang baik dan bertanggung jawab.

E. Biduk.
Biduk / perahu, yang melaju di lautan hidup menuju masa depan yang lebih baik, yaitu tujuan nasional yang dicita – citakan.

F. Pelangi Merah Putih.
Tujuan nasional yang dicita – citakan adalah masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sejahtera baik material maupun spiritual.

G. Tujuh belas butir padi, Delapan lipatan pita, Empat buahkapas, Lima daun kapas.
17-8-45 adalah peristiwa penegakan jembatan emas kemerdekaan Indonesia mengandung nilai – nilai perjuangan ’45 yang harus dihayati para siswa sebagai kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional. Kemerdekaan yang telah ditebus dengan mahal perlu diisi dengan partisipasi penuh para siswa.

H. Warna Kuning.
Sebagai dasar lambang yaitu warna kehormatan / agung. Suatu kehormatan bila generasi muda diberi kepercayaan untuk berbuat baik dan bermanfaat melalui organisasi, untuk kepentingan dirinya dan sesama mereka, sebagai salah satu sumbangsih nyata kepada tanah air, bangsa dan negara.

I. Warna Coklat.
Warna tanah Indonesia, berpijak pada kepribadian dan budaya sendiri serta rasa nasional Indonesia.x. Warna Merah Putih.Warna kebangsaan Indonenesia, dengan hati yang suci, berani membela kebenaran. Selengkapnya...

Senin, 11 Oktober 2010

MUTASI BERBUAH FRUSTASI

:

Mutasi, satu kata di lingkungan kerja birokrasi yang membuat sebagian orang ketakutan. Mutasi diidentikkan dengan hukuman. Pelengseran jabatan sekaligus penurunan gengsi dan pendapatan. Sehingga mutasi kerap dijadikan senjata olah mereka yang mempunyai kekuasaan untuk melanggengkan atau membuat strategi baru untuk mencapai tujuan.

Meski sebenarnya mutasi hanyalah retorika kehidupan. Perputaran nasib, penyegaran atau apapun upaya untuk mempercepat dan mempermudah menjalankan suatu program. Sehingga wajar, jika para top manager melakukan mutasi. Terlepas dari like and disllike, mutasi perlu dilakukan agar ada semangat bersaing secara sehat. Jika tidak dilakukan mutasi, bisa jadi akan terjadi stagnanisasi dan pembekuan ide.

Hanya saja karena sifat orang berbeda, mutasi dianggap sebagai pelecehan pribadi yang menurunkan kehormatan. Kehormatan yang mana??? Akibatnya bisa ditebak. Mereka yang tidak siap dimutasi, begitu terkena mutasi langsung mencak-mencak. Masih untung kalo hanya sekedar dilampiaskan dengan kata-kata. Tetapi jika kontrol emosinya tidak bisa ditahan, orang yang terkena mutasi bisa frustasi, depresi malah bisa juga kena serangan tekanan darah tinggi, stroke dan mati. Tidak jarang mereka yang tidak terima mengungkit-ungkit masalah melampiaskan dendam. Yang payah lagi, menyebar fitnah seputar mutasinya dan berusaha menjatuhkan siapapun dengan segala cara. Balas dendamnya bisa membabi buta dan gelap mata. Tidak lagi memandang permasalahan dengan jernih, seperti sudah lupa dengan dirinya sendiri Bahwa dirinya manusia. Yang kerasukan setan, malah bisa membawa masuk bui.

Jika ini yang terjadi, mutasi akan memunculkan fenomena baru. Memecahkan masalah berbuah masalah. Mutasi berbuah Frustasi. Buah yang beracun. Akankan ini dibiarkan? Setiap keputusan pasti punya konsekuensi logis. Perlu kekuatan mental dan sikap ksatria untuk menerima perubahan dan kekalahan. Kalau mutasi dianggap sebagai hukuman dan ia sadar bahwa selama memegang amanah belum bisa menjalankannya anggap saja ini teguran dini dari Tuhan agar tidak terjerumus lebih dalam.

Dan jika mutasi ini membuat sesorang menjadi korban kebijakan, anggap saja seperti nabi Ismail yang rela berkorban karena ini perintah Tuhan. Niscaya Tuhan akan memberi pengganti yang lebih baik. Diperlukan kebesaran hati dan sikap legowo dari seseorang sebagai cermin kedewasaan seorang pemimpin. Mutasi bukan akhir segalanya. Ada hikmah dibalik mutasi. Kelak semua manusia juga akan dimutasi dari muka bumi. Selengkapnya...

;;